Sukses dulu baru Bahagia? atau Bahagia dulu baru Sukses?

Mana yang lebih dulu sukses dulu di karir yang kita tekuni baru bahagia? atau bahagia dulu baru sukses? dan apa kaitannya dengan hasil survei mengenai 4 kategori profesional Procurement & Supply?

Survei dilakukan pada 100 profesional Procurement & Supply (P&S) dengan 4 pertanyaan reflektif sebagai berikut:

Anda masuk kategori yang mana?

Kategori 1

Suka bekerja di P&S dan didukung skill yang baik

Kategori

Suka bekerja di P&S tetapi skillnya B saja alias biasa saja

Kategori 3

Tidak suka bekerja di P&S tetapi bisa bekerja dengan baik dengan skill yang baik

Kategori 4

Tidak suka bekerja di P&S dan tidak memiliki skill yang baik

Kami mendapat respon dari 99 orang tetapi ada 4 orang yang menjawab dengan kolom kosong. Hasil surveynya adalah sebagai berikut :

7% responden mengaku mereka tidak suka bekerja di bidang P&S tetapi bisa bekerja dengan baik dan didukung skill yang baik juga. Kita bisa bekerja dengan baik bahkan ketika kita terpaksa melakukannya.

Faktor yang memaksa ini biasanya adalah faktor eksternal misalnya karena job rotation, faktor kebutuhan ekonomi, faktor keluarga dll. Kuatnya tekanan dari faktor eksternal tadi bisa memaksa seseorang untuk mengasah ketrampilannya sehingga akhirnya dia bisa berhasil di pekerjaannya bahkan memberikan output yang positif walaupun dia tidak bahagia dalam mengerjakannya

37% responden mengaku suka bekerja di bidang P&S tetapi skillnya B saja alias biasa saja. Responden dalam kategori ini tidak mendapat tekanan yang kuat dari faktor diluar dirinya. Karir di bidang P&S adalah pilihannya terlepas dia belum 100% yakin bidang ini adalah passion dia atau bukan.

Dia menyadari kekurangannya dari sisi kompetensi. Hal ini wajar karena profesi P&S ini masih berkembang di Indonesia dan belum banyak profesional yang belajar secara formal untuk mendapatkan kualifikasi di bidang ini. Kekurangan kompetensi ini dapat dipenuhi dengan belajar dan bekerja setidaknya 5000 jam (125 minggu)

56% responden mengaku suka bekerja di bidang P&S dan didukung skill yang baik. Ini adalah kategory profesional P&S yang ideal. Responden dalam kategori ini menikmati dan memiliki keterlibatan yang dalam dengan yang dia kerjakan. Waktu berjalan sangat cepat. Bahasa kerennya flow.

Jadi bahagia dulu atau sukses dulu?

Menurut saya bahagia dulu. Orang dalam kategori 1 dan kategori 2 memiliki probabilitas tinggi untuk berhasil dalam karirnya dan memberikan kontribusi positif ditempat dia berkarya. Orang yang tidak bahagia dalam pekerjaannya pada akhirnya akan stress karena dia mengerjakan sesuatu dengan terpaksa, merasa tidak terlibat dan energi dan mentalnya terkuras habis secara negatif.

Salah satu contoh eksterm orang di kategori 3 adalah juara dunia tinju kelas berat WBO tahun 1986 Michael Bentt. Michael menjadi petinju karena tekanan dari ayahnya. Singkat kata, meskipun terpaksa dia berhasil mengasah skillnya dan menjadi juara dunia.

Sampai pada suatu momen ketika dia terluka dalam pertandingan dan dokter melarangnya untuk bertanding lagi. Untuk pertama kalinya dalam 22 tahun ayahnya tidak bisa memaksa dia bertinju lagi. Michael akhirnya bebas memilih karir yang dia tekuni dan memutuskan berganti profesi menjadi seorang aktor.

Jadi menurut saya bahagia dulu baru sukses. Kita bisa sukses tetapi apa artinya kalau tidak bahagia? Lebih baik mengerjakan dengan senang apa yang harus kita kerjakan daripada terpaksa mengerjakan apa yang harus kita kerjakan. IMHO

Life is too short to be unhappy at work 

2 thoughts on “Sukses dulu baru Bahagia? atau Bahagia dulu baru Sukses?

Comments are closed.